Cuma Isi Kelas dan Tujuan Pembelajaran, Gemini Bisa Bikin Digital Story Book untuk Siswa!
Bayangkan guru hanya perlu menuliskan kelas dan topik atau tujuan pembelajaran, kemudian Gemini membantu membuat sebuah Digital Story Book yang menyesuaikan cerita dengan karakteristik siswa.
Mulai dari bahasa, tokoh, alur cerita, tingkat kesulitan, hingga aktivitas setelah membaca dapat dibuat menyesuaikan jenjang yang kita tuliskan.
Menariknya, guru tidak harus membuat semuanya dari awal. 📚✨
Salah satu fitur yang bisa dicoba adalah Storybook di Gemini AI.
Buka Storybook Gemini
Untuk mencoba fitur ini, silakan buka:
👉 https://gemini.google.com/gem/storybook
Setelah terbuka, kita dapat memberikan instruksi mengenai cerita yang ingin dibuat.
Namun daripada setiap kali harus menulis prompt panjang dari awal, saya sudah menyiapkan 10 Master Prompt Digital Story Book yang dapat digunakan kembali untuk berbagai kelas dan mata pelajaran.
Guru Cukup Mengisi Dua Bagian
Master prompt ini saya buat sesederhana mungkin.
Guru hanya perlu mengubah:
Jenjang/Kelas: [Jenjang/Kelas]
Topik/Tujuan Pembelajaran: [Topik/Tujuan Pembelajaran]
Contohnya:
Jenjang/Kelas: V SD
Tujuan Pembelajaran: Siswa mampu menjelaskan proses terjadinya siklus air.
Selanjutnya prompt akan meminta Gemini menyesuaikan secara otomatis:
- tingkat kesulitan bahasa,
- panjang cerita,
- jumlah halaman,
- tokoh,
- latar,
- konflik,
- dialog,
- ilustrasi,
- pertanyaan pemahaman,
- refleksi,
- hingga aktivitas setelah membaca.
Dengan cara ini, guru tidak perlu membuat prompt berbeda untuk kelas I SD, kelas VII SMP, atau kelas XI SMA.
Jenjang yang kita tuliskan menjadi salah satu dasar untuk menyesuaikan bentuk ceritanya.
Contoh storybook nya dapat disimak disini
https://gemini.google.com/share/5d3252a51cee?skid=c9503347-6782-4e1c-aa0d-c9a4f1f953d1
10 Model Digital Story Book yang Bisa Dibuat
Di dalam dokumen tersebut terdapat 10 jenis master prompt.
1. Petualangan Edukatif
Siswa mengikuti perjalanan tokoh utama untuk menyelesaikan suatu misi.
Materi pembelajaran dimasukkan melalui tantangan, kejadian, dan perjalanan tokoh.
Misalnya untuk materi siklus air, tokoh dapat mengikuti perjalanan setetes air dari laut, menjadi awan, turun sebagai hujan, kemudian kembali lagi ke lingkungan.
2. Cerita Misteri
Konsep pembelajaran digunakan sebagai petunjuk untuk memecahkan sebuah misteri.
Model seperti ini cocok untuk mendorong siswa membaca dengan lebih teliti.
Guru dapat berhenti pada bagian tertentu kemudian bertanya:
“Menurut kalian, apa yang sebenarnya terjadi?”
3. Pilih Jalanmu
Siswa tidak hanya membaca.
Pada beberapa bagian cerita, mereka harus menentukan pilihan.
Misalnya:
Apa yang sebaiknya dilakukan tokoh?
Setiap keputusan dapat membawa cerita menuju situasi yang berbeda.
4. Masalah Kehidupan Nyata
Cerita dimulai dari masalah yang dekat dengan kehidupan siswa.
Misalnya:
- penggunaan air di rumah,
- sampah di lingkungan,
- kegiatan jual beli,
- keselamatan di jalan,
- penggunaan listrik,
- pertemanan,
- hingga permasalahan dunia kerja untuk siswa SMK.
Konsep pembelajaran kemudian muncul ketika tokoh mencoba menyelesaikan masalah tersebut.
5. Cerita Karakter dan Nilai
Cerita akademik dapat digabungkan dengan nilai seperti:
- kerja sama,
- tanggung jawab,
- kejujuran,
- rasa ingin tahu,
- empati,
- dan keberanian mencoba.
Yang perlu diperhatikan, nilai karakter sebaiknya muncul melalui tindakan tokoh, bukan sekadar ceramah di akhir cerita.
6. Perjalanan Waktu
Tokoh melakukan perjalanan ke masa lalu atau masa depan.
Model ini sangat menarik untuk materi seperti:
- sejarah,
- perkembangan teknologi,
- perubahan lingkungan,
- perkembangan kehidupan manusia,
- atau perubahan suatu fenomena dari waktu ke waktu.
7. Masuk ke Dunia Konsep
Ini salah satu model yang menarik untuk materi yang cukup abstrak.
Bayangkan siswa membaca cerita tentang tokoh yang tiba-tiba:
masuk ke dalam tubuh manusia,
mengecil hingga memasuki dunia atom,
atau
masuk ke dalam sebuah komputer.
Konsep yang sebelumnya abstrak dapat dijelaskan melalui perjalanan karakter.
8. Dialog Antar Tokoh
Cerita lebih banyak dikembangkan melalui percakapan.
Salah satu karakter dapat memiliki pemahaman yang kurang tepat.
Karakter lainnya tidak langsung memberikan jawaban, tetapi mengajak berdiskusi hingga akhirnya mereka menemukan konsep yang benar.
Model seperti ini dapat digunakan untuk memunculkan miskonsepsi yang sering dialami siswa.
9. Investigasi Detektif
Siswa diajak menjadi penyelidik.
Setiap halaman memberikan satu petunjuk atau bukti.
Pada akhir cerita, siswa harus menghubungkan bukti-bukti tersebut untuk mengambil kesimpulan.
Model ini cocok untuk kegiatan yang membutuhkan:
mengamati → membandingkan → membuat dugaan → menganalisis → menyimpulkan.
10. Story Book Adaptif Otomatis
Untuk model terakhir, kita tidak menentukan jenis ceritanya.
Guru hanya memberikan:
Kelas + Tujuan Pembelajaran
Kemudian Gemini diminta memilih sendiri bentuk cerita yang paling sesuai.
Bisa berupa:
petualangan, misteri, kehidupan sehari-hari, fantasi, investigasi, perjalanan, atau dialog.
Ini menjadi pilihan yang paling praktis ketika guru belum menentukan format cerita yang ingin digunakan.
Download 10 Master Prompt Digital Story Book
Saya sudah mengumpulkan seluruh master prompt tersebut dalam satu dokumen yang dapat diedit.
📥 Download 10 Master Prompt Digital Story Book lengkap di sini:
Silakan salin prompt yang ingin digunakan kemudian ubah:
[Jenjang/Kelas]
dan
[Topik/Tujuan Pembelajaran]
sesuai kebutuhan.
Contoh Penggunaannya di Kelas
Digital Story Book sebaiknya tidak berhenti pada kegiatan:
Guru membuat cerita → siswa membaca → selesai.
Kita dapat menggunakannya sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran.
Mari kita coba satu simulasi.
Simulasi Pembelajaran IPA Kelas V SD
Guru memasukkan:
Jenjang/Kelas: V SD
Tujuan Pembelajaran: Siswa mampu menjelaskan proses terjadinya siklus air dan hubungan antara penguapan, kondensasi, dan presipitasi.
Kemudian gunakan Master Prompt Petualangan Edukatif.
Gemini dapat membuat cerita misalnya:
“Petualangan Tetes Air Bernama Titi”
Titi adalah setetes air yang tinggal di laut.
Suatu hari matahari bersinar sangat terik.
Tubuh Titi terasa semakin hangat hingga akhirnya ia naik ke udara bersama teman-temannya.
Dari sinilah perjalanan dimulai.
Titi kemudian:
Laut → Menguap → Menjadi Awan → Turun sebagai Hujan → Mengalir ke Sungai → Kembali ke Laut
Tanpa harus memberikan definisi panjang di awal, siswa mengikuti konsep siklus air melalui perjalanan karakter.
Sebelum Membaca
Guru menampilkan cover Digital Story Book.
Jangan langsung menjelaskan materinya.
Tanyakan kepada siswa:
“Menurut kalian, ke mana perginya air ketika terkena panas matahari?”
Biarkan beberapa siswa memberikan dugaan.
Kemudian mulai membaca cerita bersama.
Saat Membaca
Pada saat Titi mulai naik dari permukaan laut, guru dapat berhenti.
Tanyakan:
“Apa yang menyebabkan Titi bisa naik?”
Siswa berdiskusi singkat.
Lanjutkan cerita.
Ketika Titi bertemu dengan kumpulan titik air lain dan membentuk awan, berhenti lagi.
Tanyakan:
“Apa yang sedang terjadi pada Titi?”
Guru dapat menuliskan kata:
KONDENSASI
di papan setelah siswa mengemukakan pendapat.
Dengan demikian, istilah ilmiah muncul setelah siswa terlebih dahulu memahami peristiwanya.
Gunakan Story Book sebagai Pemantik Diskusi
Saat cerita sampai pada bagian hujan, guru dapat memberikan pertanyaan:
“Apakah perjalanan Titi berhenti ketika menjadi hujan?”
Siswa kemungkinan menjawab tidak.
Guru kemudian meminta siswa memprediksi perjalanan selanjutnya.
Aktivitas sederhana seperti ini membuat siswa tidak hanya menjadi pembaca pasif.
Mereka ikut membangun cerita.
Setelah Membaca
Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.
Setiap kelompok mendapatkan kartu bertuliskan:
Penguapan
Kondensasi
Presipitasi
Pengumpulan Air
Kelompok kemudian diminta:
- mencari bagian cerita yang sesuai dengan kartu mereka,
- mendiskusikan apa yang terjadi,
- menjelaskan kepada kelompok lain.
Dengan cara tersebut, siswa menghubungkan istilah ilmiah dengan kejadian yang mereka baca dalam cerita.
Tantangan Akhir
Guru kemudian memberikan tantangan:
“Sekarang bayangkan kalian adalah Titi. Ceritakan perjalanan kalian mulai dari laut hingga kembali lagi ke laut menggunakan bahasa kalian sendiri.”
Siswa dapat:
- bercerita secara lisan,
- menulis cerita pendek,
- menggambar siklus air,
- membuat komik,
- atau membuat Digital Story Book versi mereka sendiri.
Di sinilah Story Book berubah dari sekadar media baca menjadi media pembelajaran.
Jangan Hanya Fokus pada Ceritanya
AI sekarang memang dapat membantu membuat cerita yang sangat menarik.
Namun cerita yang bagus belum tentu otomatis menghasilkan pembelajaran yang bagus.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang akan dilakukan siswa setelah membaca cerita ini?”
Kita dapat menggunakan Digital Story Book untuk:
- kegiatan literasi,
- apersepsi,
- pemantik diskusi,
- eksplorasi konsep,
- pembelajaran berbasis masalah,
- aktivitas kelompok,
- latihan berbicara,
- menulis ulang cerita,
- refleksi,
- hingga asesmen sederhana.
Digital Story Book bahkan dapat digunakan sebelum guru menjelaskan konsep.
Biarkan cerita terlebih dahulu memunculkan rasa penasaran siswa.
Setelah itu barulah guru membantu siswa memberikan nama, istilah, atau penjelasan ilmiah terhadap hal yang mereka temukan.
Teknologi Tetap Bukan Tujuan Akhir
Membuat buku cerita dengan Gemini memang menyenangkan.
Namun jangan berhenti pada kalimat:
“Wah, AI bisa bikin buku cerita.”
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting:
“Bagaimana buku cerita ini membantu siswa memahami sesuatu?”
Ketika cerita dirancang berdasarkan tujuan pembelajaran dan digunakan dengan aktivitas yang tepat, Digital Story Book dapat menjadi jembatan antara literasi, visual, imajinasi, diskusi, dan pemahaman konsep.
Mulai Mencoba
Silakan buka Storybook Gemini:
👉 https://gemini.google.com/gem/storybook
Kemudian download 10 Master Prompt Digital Story Book:
Mulailah dari satu tujuan pembelajaran.
Tidak perlu membuat cerita yang terlalu panjang.
Coba gunakan satu Digital Story Book pada satu bagian pembelajaran, lalu lihat bagaimana siswa meresponsnya.
Karena mungkin, materi yang biasanya kita jelaskan melalui beberapa slide justru akan lebih mudah diingat siswa ketika mereka mengikutinya melalui sebuah cerita. 📚✨
Posting Komentar